Pages

Subscribe:

Minggu, 07 Agustus 2011

Koreksi Terhadap Amalan-Amalan Di Bulan Rajab


KOREKSI TERHADAP AMALAN-AMALAN DI BULAN ROJAB
Dengan memanjatkan puji syukur kapada Alloh yang Maha Tinggi di atas segla makhlukNya, kemudian ucapan sholawat dan salam buat Nabi kita yang mulia, Nabi Muhammad Shallallohu’alaihi wa sallam yang telah Mi’raj (naik) menghadap Alloh dalam rangka menjemput perintah Sholat wajib lima waktu.
Manakala di suatu daerah berkembang ilmu yang bersandar kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka disana alan terbit cahaya keimanan dan sunnah, serta akan terlihat dengan jelas tanda-tanda tauhid. Dan sebaliknya apabila yang ada berupa kejahilan (kebodohan) mak chaya sunnah akanterbenam sehingga terkuburlah tanda-tanda tauhid dan keimanan. Beragam kesyirikan, tradisi jahiliyah, bid’ah dan khurafat akan berkembang yang pada akhirnya muncullah bermacam cobaan, bala’, malapetaka dan kesusahan.
Sebagai bentuk nasihat kepada kaum muslimin, kami ingin mengajak para pembaca yang kami cintai untuk mengetahui amalan-amalan yang dianggap ibadah yang dikerjakan khusus pada bulan Rojab namun pada hakikatnya hal itu adalah amalan-amalan bid’ah yang tertolak di sisi Alloh Ta’ala. Dari’Aisyah Radhiyallohu’anha berkata; Rasululloh Shallallohu’alaihi wa sallam bersabda:
Barangsiapa yang membuat suatu perkara (dalam agama) yang tidak ada padanya rusan kami, maka tertolak” (HR: Abu Dawud dan IBnu Majah dishohihkan oleh Al-Albani dalam Tharghib Wa Tarhib no:49).
Supaya kita kembali kepada ajaran yang murni yang bersih dari kesyirikan dan bid’ah sebagaimana adanya dari Rasululloh Shallallohualaihi wa sallam sebagai jalan keluar dan keselamatan dari berbagai macam cobaan, bala’, malapetaka dan kesusahan, khususnya di negeri yang kita cintai ini. 
  •   Definisi Rojab
Secara bahasa: diambil dari kata Rojabu, Arrojaba, Rojabaa yang artinya mengagunggan dan memuliakan. Rojab adalah sebuah bulan, dinamakan dengan Rojab dikarenakan mereka dahulu sangat mengagungkannya pada masa jahiliyah dengan tidak menghalalkan perang pada bulan tersebut. (Qomusul Muhtih 1/74). 
  •   Keutamaan Rojab
Dari Abu Bakroh Radhiyallohu’anhu bahwasanya Nabi Shallallohu’alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana keadaannya tatkala Alloh menciptakan langit dan bumi, setahun ada 12 bulan diantaranya terdapat empat bulan Harom, tiga bulan berturut-turut yaitu: Dzul Qo’idah, Dzulhijjah, Muharrom dan Rojab Mudhor yang terletak antara Jumadil Akhir dan Sya’ban” (HR. Bukhori 4662). 
  • Amalan-Amalan Bid’ah Di Bulan Rojab
Diantara amalan-amalan yang tidak ada contohnya dari Rasululloh Shallallohu’alaihi wa sallam dan para sahabatnya kaum muslimin di bulan Rojab yang pada akhirnya tertolak oleh syari’at walaupun dilaksanakan dengan penuh keikhlasan. Diantaranya adalah:     

-Sholat Roghoib
Sholat Roghoib adalah Sholat yang dilakukan pada malam jum’at pertama bulan Rojab, tepatnya antara Sholat Maghrib dan Isya’ dengan didahului puasa pada hari kamisnya, dikerjakan dengan dua belas raka’at, pada setiap raka’at membaca surat Al-Fatihah sekali, surat Al-Qodr tiga kali dan surat Al-Ikhlas dua belas kali….dan seterusnya.
Jadi kesimpulannya adalah: apa yang disebutkan oleh Imam IBnu Rojab Rahimahulloh dalam kitab Lathoiful Ma’arif hal: 213 berkata: “Adapun sholat, maka tidak ada yang shohih pada bulan Rojab (sholat yang dikhususkan) dan hadits-hidits yang diriwayatkan tentang keutamaan sholat Roghoib di malam jum’at pertama pada bulan Rojab adalah DUSTA, BATHIL dan TIDAK SHOHIH dan ini adalah sholat BID’AH menurut jumhur (mayoritas) para ulama”.
- Mengkhususkan Puasa Di Bulan Rojab
Termasuk bid’ah rojab adalah: menghususkan puasa pada bulan tersebut karena tidak ada hadits yang mendukungnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahulloh berkata: “Adapun menghususkan puasa di bulan rojab maka seluruh hadits-haditsnya adalah lemah dan palsu, para Ulama’ tidak menjadikannya sebagai sandaran sedikitpun” (Majmu’fatawa 25/290).
Imam Ibnu Rojab al-Hanbali berkata: “Adapum puasa maka tidak ada yang shohih sedikitpun dari Nabi Shallallohu’alaihi wa sallam tidak pula dari sahabatnya mengenai keutamaan puasa rojab dengan menghususkannya. (Lathoiful Ma’arif: 213).
Kesimpulan dari perkataan para Ulama’ di atas adalah tidak boleh menghususkan puasa pada bulan Rojab sebagai pengagungan terhadapnya, sedangkan apabila seseorang telah terbiasa tau rutin berpuasa sunnah (puasa Dawud, puasa senin kamis dan semisalnya) maka tidaklah mengapa.
-Sembelihan Rojab (Rabu Bontong (Sasak))
Termasuk adat jahiliyah dahulu adalah menyembelih hewan di bulan Rojab sebagai pengagungan terhadapnya, disebabkn Rojab merupakan awal bulan harom sebagaimana yang dikatakanoleh Imam Tirmuidzi di dalam Sunannya 4/96. Tatkala Islam dating secara tegas telah membatalkan acara sembelihan rojab serta mengharamkannya sebagaimana dijelaskan di dalam hadits yang diriwayatkan dari jalan sahabat Abu Hurairoh Radhiyallohu’anhu, Rasululloh Shallallohu’alaihi wa sallam bersabda:
“Tadak ada Faro’ dan Athiroh” (HR. Bukhori dan Muslim).
Faro’ artinya unta yang disembelih oleh orang-orang jahiliyah yang diperuntukkan bagi tuhan-tuhan, kemudian mereka makan dagingnya lalu kulitnya dilemparkan ke pohon. Athiroh artinya sembelihan pada sepuluh hari pertama bulan Rojab. (Lihat Aunul Ma’bud 7/341, 8/24).
- Perayaan Isra’ Mi’raj
Tidak diragukan lagi, bahwa Isra’ Mi’raj merupakan tanda-tanda kebesaran Alloh yang Maha Agung yang menunjukkan atas kebenaran RasulNya Muhammad Shallallohu’alaihi wa sallam dan keagungan kedudukannya di sisi Tuhannya dan membuktikan atas kehebatan Alloh dan kebesaran kekuasaannya atas semua makhlukNya. Alloh Ta’ala berfirman:
Maha suci Alloh, yang telah memperjalankan hamba-NYa pada suatu malam dari Al  Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Al-Israa’: 1).
Akan tetapi di Negeri yang kita cintai ini setiap tanggal 27 Rojab perayaan Isra’ Mi’raj sudah merupakan sesuatu yang tidak terlupakan di masyarakat kita sekarang, bahkan hari tersebut menjadi Hari LIbur Nasional, padahal dalam tinjauan sejarah tentang waktu terjadinya Isra’ Mi’raj masih diperselisihkan oleh para Ulama’, jangankan tanggalnya, bulannya saja masih diperselisihkan sampai saat ini.
Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqolani memaparkan perselisihan tersebut dalam kitabnya Fathul Bari 7/203 sampai mencapai lebih dari sepuluh pendapat.
Ada yang berpendapat bahwa Iera’ Mi’raj terjadi pada bulan Romadhon, Syawwal, Robi’ul Awwal, Robi’ul Akhir dan sebagainya. Intinya Isra’ Mi’raj tidak diketahui waktu terjadinya karena semua riwayat tentangnya tidak ada yang shohih menurut pakar ilmu hadits -Wallohu a’lam­- Hanya Allohlah yang mengetahui hikmah kelalaian manusia terhadap waktu terjadinya, kalulah memang diketahui waktu terjadinya tetap tidak boleh bagi kaum kuslimin mengkhususkanny dengan ibadah dan perayaan karena hal itu tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya, seandainya disyari’atkan pastilah Nabi Shallallohu’alaihi wa sallam menjelaskannya kepada ummatnya baik dengan perkataan maupun perbuatan.
Ahlussunnah wal jama’ah mengimani dan meyakini peristiwa Isra’ Mi’raj dan sekaligus bukti yang sangat kuat tentang ketinggian zat Alloh berada di Arsyi-Nya, akan tetapi sayang seribu sayang, aneh tapi nyata sebagian saudara-saudara kaum muslimin yang merayakan peristiwa ini dengan membacakan kisah-kisah palsu tentang Isra’ Mi’raj tidak mempercayai tentang bersemayamnya Alloh di atas Arsyi. Hanya Allohlah tempat mengadu dan minta petunjuk agar menunjuki kita kepada jalan kebenaran yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman salafussholiah (para sahabat, tabi’in dan ataba’uttabi’in).
Disalin dari: Buletin As-Sunnah Edisi Rajab 1432 H-Juni 2011 M.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar