Pages

Subscribe:

Kamis, 04 Agustus 2011

“UNJUK RASA” sesuaikah dengan Indonesia?

Bismillahirrahmanirrahim…
Assalamualaikum warahmatullohi wabarokatuh…
Sebagai awal dari sebuah perjuangan menuju cita-cita Indonesia yang dahulu tertuang dalam pancasila dan undang-undang dasar 1945 sebagai penuntun menuju langkah yang dapat mengangkat citra bangsa kita di mata dunia. Ada banyak hal yang harus diperhatikan dalam perjuangan yang selama ini kita tempuh setelah kemerdekaan, apakah perjuangan itu ialah seperti yang kita lihat selama ini di mana banyak sekali “perjuangan” tersebut diwujudkan dengan aksi unjuk rasa atau yang juga dikenal dengan aksi demo? Akan tetapi jika kita lihat hal ini, itu lebih terlihat sebagai sutu perbuatan tidak sesuai dengan budaya indonesia, di mana mereka hanya bisa berteriak menuntut tanpa menawarkan solusi yang seharusnya menjadi tanggung jawab kita semua. Perhatikan semua dampak yang terjadi dari “aksi” yang kata mereka merupakan sebuah perjuangan tsb. Tiadak jarang terjadi keributan dan tindakan anarkis, selain itu juga akan banyak pihak yang merasa terzalimi baik langsung maupun tidak langsung seperti yang selama ini kita lihat bahwa banyak sekali yang merasa tersinggung dengan kegiatan tersebut yang kalau disebutkan tentunya akan sangat banyak. Secara logika, jika kita menempatkan diri sebagai sasaran dari aksi tersebut, bagaimanakah perasaan kita dimana aib kita dibeberkan di tengah jalan dengan lantang, tentunya kita akan merasa malu dan sakit hati dengan hal itu, sementara tidak sewajarnya kita membeberkan aib seseorang dan membuat orang sakit hati juga merupakan sutu perbuatan yang menzalimi orang lain. Apalagi kita sebagai umat islam dimana kita melandaskan hidup pada Al-Qur’an dan sunnah Rasululloh SAW. Dalam al-qur’an sudah dijelaskan bahwa dalam menyampaikan suatu kebaikan harus dengan kata-kata yang lemah lembut sesuai dengan Al-Qur’an surat Thaha ayat 43-44. di mana dalam ayat tersebut Nabi Musa dan Nabi Harun diperintahkan oleh Alloh azzawajalla, untuk mendatangi firaun yang telah melampaui batas, Nabi Musa dan Nabi Harun diperintahkan untuk mendatangi firaun dengan kata-kata yang lemah lembut. Jadi berdasarkan ayat tersebut, anggapan bahwa aksi unjuk rasa yang biasanya (atau mungkin wajib) berteriak dengan lantang di jalanan merupakan sebuah perjuangan yang baik menurut saya adalah merupakan kekeliruan yang besar terutama kita sebagai umat muslim. Selain itu, rasululloh juga sudah menawarkan suatu cara pemecahan masalah yang sudah terbukti sangat baik dan bagus yaitu “musyawarah”. Selain itu dalam landasan Negara kita yaitu pancasila dinyatakan bahawa “kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan /perwakilan”. Jadi, dari sila ke-4 ini kita “diperintahkan” untuk menyampaikan segala aspirasi melalui “wakil” kita yang ada di dewan yang kemudian dibahas dalam suatu musyawarah dewan perwakilan rakyat.
Namun pada akhirnya, kesimpulan yang layak diambil dari pernyataan di atas ada pada diri kita masing-masing, dan diharapkan keimpulan tersebut merupakan pandangan yang obyektif dan sesuai dengan kenyataan. Terimakasih.
Wassalamualaikum warahmatullohi wabarokatuh…

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar