Pages

Kamis, 01 Februari 2024

WEBINAR KOMUNITAS MGMP BAHASA INDONESIA SUB RAYON 09 KECAMATAN JEROWARU

Daftar Peserta Webinar "Strategi Pembelajaran Numerasi Lintas Kurikulum"

Rabu, 31 Januari - 1 Februari 2024
Melalui Platform Merdeka Mengajar : https://rb.gy/urbex2
Sertifikat diakui keasliannya jika Nama, Instansi dan Nomor Sertifikat terdaftar di list berikut :

Sabtu, 12 April 2014

Catatan Seorang Teman (Repost)

Assalam,
24 Juni 2007, tepat pada usiaku yang ke-18 tahun aku menginjakkan kaki di bumi Mataram ini. Memang bukan hal yang spesial bagi kebanyakan orang tapi buatku ini adalah keajaiban karena seperti mimpi bisa meneruskan jenjang akademikku.

Yang ingin kuceritakan di dalam note ini bukanlah tentang agama atau bahasan-bahasan yang akan menarik jika dibaca. Akan tetapi, sebuah pengakuan yang sangat sulit untuk aku ucapkan kepada kalian; teman, sahabat, sekaligus saudaraku di tempat ini (Fisika ’07).

Biar kugambarkan satu per satu jadi dengarkanlah baik-baik.

Saat pertama kita bertemu, seperti kalian tahu aku bukanlah “siapa-siapa” bagi kalian, begitupun sebaliknya. Aku tidak cukup berani untuk unjuk gigi (alnya belum sikat gigi,,hihi) di depan kalian ataupun mahasiswa lain. Seperti katak dalam tempurung, aku hanya berkutat dengan duniaku sendiri. Mengenal beberapa teman di kelas kemudian merasa nyaman namun karena tidak berjodoh akhirnya pergi satu per satu (siska, galuh, dan ati). Aku pun kembali dalam hidupku yang hening dan sunyi. Sampai satu per satu dari kalian mulai muncul di hadapanku. Aku mulai berani melihat kalian. Berbicara secara perlahan, saling bertanya, tertawa kecil satu sama lain, dan pelan tapi pasti aku merasakan hal yang berbeda dari kehidupanku yang dulu. Merasa bahwa ini sangat manis, sangat indah, dan sangat berwarna. Petualangan kita pun berawal.

Di sela kesibukan kuliah, kita selalu menyempatkan diri untuk membuat kenangan-kenangan kecil saat bersama. Meski di awal perkuliahan kita terpisah oleh ketidakpahaman kita satu sama lainnya tapi lihatlah kini, kita selalu tertawa bersama. Bahkan melakukan hal yang kekanak-kanakan bersama. Terlalu banyak kenangan yang tak kan habis untuk dituliskan karena manakalah pena berburu untuk menuliskannya, hati telah berbicara ribuan kalimat dengan sangat cepat, hingga pena pun mengalah karena kelelahan.

Saat menuliskan note ini, aku merasakan kebahagian yang begitu indah sekaligus kesedihan yang begitu nelangsa.
Bahagia karena bisa mengenal kalian.
Bahagia karena kita selalu bersama selama tiga tahun ini.
Bahagia, dengan alasan yang tak bisa diungkapkan.

Sedih karena kita akan berpisah.
Sedih karena kelak tak kan bisa tertawa bersama lagi.

Sebelum berakhir, biar kugambarkan kalian seperti yang ada di dalam hatiku. Ingatlah ini karena kita tidak pernah tahu kapan kehidupan akan membawa kita pada estafet selanjutnya.

Sebenarnya aku bingung harus memulai dari siapa tapi biarlah aku tuliskan satu per satu seperti yang ada di hatiku.

Nurveni :
Seorang gadis manis yang selalu tersenyum ramah tidak peduli seperti apa pun suasana hatinya. Sangat sopan dan memiliki hati yang begitu indah. Aku menyukainya.

Nining Sumawati Asri:
Gadis keras kepala yang begitu berprinsip. Hatinya tak akan goyah oleh karang apapun. Sangat menyukai Jepang dan kupikir dia memang sangat mirip dengan orang Jepang. Aku akan merindukannya.

Ade Irma Setya Negara :
Hampir kehilangan kata untuk menggambarkan gadis ini karena menurutku dia sangat menginspirasi. Semangat, kerja keras, dan selalu melakukan sesuatu secara totalitas, kupikir merupakan rahasia kecil dalam hidupnya yang begitu gemilang. Aku begitu mengaguminya.

Husnul Aini :
Satu lagi gadis hebat lainnya di kelas. Sangat kuat dan begitu kenyang pengalaman akan kehidupan. Selalu bersemangat dan mampu memberikan semangat untuk orang lain. Aini, sebuah nama yang indah. Aku akan selalu mengingatnya.

Chusnul Khatimah :
Mengenalmu adalah hal terhebat dalam hidupku. Tanpa kau sadari, kau sudah seperti seorang ibu yang begitu bijaksana untukku. Meski terkadang kau kerap menampakkan sosok polosmu yang begitu menggemaskan. Kini kau telah menjadi gadis dewasa yang begitu cantik. Aku akan selalu mengingatmu.

Dian Arsianti :
Aku lebih suka memanggilmu dengan sebutan ukhti. Seorang gadis yang sangat aku hargai karena kebaikan budi dan akhlaknya. Di dekatnya begitu nyaman dan hangat. Serasa tak ada beban apapun. Ukhti, kau selalu ada di hatiku.

Sumawarni :
Gadis sederhana yang sangat sulit ditebak. Punya hati yang baik dan kehidupan yang sangat menarik. Yang paling kuingat, saat dia menemaniku menangis di tengah hujan yang begitu lebat. Suma, gomawo (terima kasih).

Ermi Wahyuni :
Tak bisa menggambarkannya secara terperinci karena kepribadiannya sangat rumit. Sering mengomeliku saat aku tak mampu mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik. Namun terkadang begitu lembut mengajariku banyak hal tentang sisi lain kehidupan yang tak kuketahui. Er, jangan lupakan aku.

Khaerurrahmi :
Gadis yang pandai dan selalu penasaran akan sesuatu. Seperti anak kecil yang selalu memojokkanku dengan pertanyaan-pertanyaannya yang begitu memusingkan jika ia penasaran akan sesuatu. Menyukai tantangan dan hal-hal baru. Rara, kau seperti warna berbeda yang begitu indah diantara begitu banyak warna yang ada.  

Mahabbah :
Terkadang ceria, terkadang begitu sedih. Suasana hatinya begitu mudah ditebak. Menurutku, sekarang dia tampak lebih dewasa. Bah, tetaplah tersenyum. 

Rostikawati :
Seperti namamu, kau layaknya sekuntum bunga. Mekar dan begitu indah. Dan akan lebih indah jika kau selalu tersenyum. Ros, jadilah bunga yang indah.

Rahmawati :
Pertama mengenalmu, kau berdiri di antara kami sembari menesteskan air mata. Bukan karena kau lemah tapi karena kau begitu kuat. Gadis kecil yang begitu lantang dan berani saat berbicara di depan. Membuat bulu kudukku berdiri. Wati, kau wanita yang sangat berani.

Khusnul Khatimah, Sri Fatmawati, dan Dwi Ningsih RPA :
Aku tak tahu kenapa aku ingin membicarakan kalian bertiga secara bersamaan. Kalian begitu unik. Sisi yang sangat menarik dalam perjalanan kita selama tiga tahun ini. Meski jarang bersama, aku tahu kalian punya hati yang sangat baik. Selalu tersenyum dan menyapa dengan hangat. Aku begitu menyukai kalian. Melihat kehidupan kalian membuatku berfikir kalau kehidupan ini begitu ringan, renyah, dan sangat enak (seperti saat makan wafer, hehe). Tak ada kegundahan bersama kalian karena semuanya terlihat begitu mudah. Ima, Ko’o, dan Dwi, kalian sangat berarti.

Nining Fitriana :
Pribadi yang begitu malu-malu dan sederhana. Akan berbicara jika hal itu memang benar-benar sangat penting. Dia juga gadis yang punya hati yang baik. Jangan terlalu berlebihan di depannya karena dia tidak akan menyukainya. Tampillah apa adanya karena dia juga sangat menyukai kepolosan.

Evi Eti Jayanti :
Gadis yang pandai dalam akademik dan begitu telaten dalam pekerjaan rumah. Selalu bersungguh-sungguh mengerjakan sesuatu tapi terkadang begitu susah menentukan pilihannya sendiri. Jika ditanya pendapatnya, hanya akan berkata ‘terserah’ atau ‘Evi gak tahu’. Benar-benar sangat berbeda dengan kedewasaannya dalam hal lain. Kepribadian yang akan sangat  aku rindukan.

Harniwati (Alloh yarham) :
Gadis yang begitu berbeda. Membicarakannya membuatku tertawa renyah karena dia memang sangat berbeda. Dapat melakukan sesuatu yang berani hanya dengan satu instruksi dari otaknya. Ditambah lagi kecuekannya akan sesuatu. Terkadang aku berfikir, mungkin kita semua butuh sifat seperti ini dalam menghadapi dosen, hehe. . .



Imran :
Apa yang harus aku katakan tentangmu. Kau bukan hanya pandai tetapi sangat jenius. Hampir tak ada celah kurangmu. Kau mampu melakukan semua hal dengan baik. Memberikan hal yang tidak biasa saat kami hanya mampu memikirkan hal yang biasa. Tapi kau juga manusia, ada sisi lemah yang aku ataupun mereka tak tahu. Meski demikian, bersinarlah seperti bintang agar orang lain dapat merasakan keindahanmu.

Abdul Kadir Jaelani :
‘gak ada lho gak rame’, sebuah ungkapan sederhana tapi memang sangat pas untukmu. Selalu membuat kami tertawa dan menghiasi perjalanan ini dengan begitu kocak. Meski tak ingin mengakuinya tapi kau adalah ketua tingkat terbaik kami. Saat kau berbaring di tengah sakitmu, aku tidak bisa membayangkan keadaan kelas tanpamu.  Cepatlah sembuh seperti dulu.

M. Fauzi Muhajir :
Sosok ketua yang mampu diharapkan. Pemimpin yang bijaksana. Mampu menjadi penyejuk dengan pidato-pidatonya yang meski terkadang menjenuhkan dan susah mengartikannya, tapi jujur sangat menyukainya. Sebuah ciri khas yang akan selalu diingat di dalam hati.

Zulyadi Ardiansyah :
Seseorang yang begitu bebas melakukan sesuatu tanpa terikat apapun. Punya idealisme sendiri yang meskipun aku tak paham tapi sangat menghargainya. Sosok sodara yang baik dan pengertian. Mampu menjadi penengah dan penenang yang baik jika diantara kita ada kesalahpahaman.

Zamrizal Wardiawan :
Apa yang harus kukatakan tentangnya. Menurutku, dia sangat baik dan suka menolong orang lain. Selalu menomorsatukan kepentingan orang lain di atas kepentingannya sendiri. Melakukan hal yang kecil dengan sepenuh hati. Untukmu, tetaplah jadi orang yang baik.

Janwadi :
Terkadang ceroboh dan sangat buru-buru dalam melakukan sesuatu. Akan tetapi, dia adalah orang yang sangat menepati janji. Saat dia bersungguh-sungguh melakukan sesuatu, dia kan terlihat begitu berbeda dari biasanya. Kupikir, hal itu harus sering-sering terjadi.

Irwan Fatihin :
Seseorang yang baik dan selalu berfikir positif tentang orang lain. Secara sepintas, akan berfikir kalau dia adalah seseorang yang berkepribadian serius. Akan tetapi jika mengenalnya, akan tahu kalau dia sangat mudah tersenyum dan suka sekali bercanda.

Lalu Marthaguna Pratama :
Pasangan yang sangat cocok dengan kadir (Vi, jangan marah ya,hehe…) dalam membuat suasana kelas menjadi rame dan menyenangkan. Suka membuat lelucon yang membuat tertawa namun terkadang dia sendiri tidak tertawa. Menguasai  komputer dengan baik dan ini sangat membantu untukku dan yang lainnya.

M. Abdurrahman Sunni :
Seorang laki-laki yang selalu berusaha keras untuk menjadi yang terbaik meski terkadang sering menjengkelkan karena sifatnya yang kekanak-kanakan. Memiliki semua hal yang tak mampu kami miliki. Kini dia telah lebih dewasa dari pertama bertemu.

Asri Irfan :
Awal bertemu, terlihat begitu pemalu dan tak banyak bicara. Aku tak tahu kenapa tapi kupikir dia pun sama seperti kebanyakan dari kita. Belum mampu menjalani dengan sepenuh hati jurusan yang kita masuki. Tapi lihatlah sekarang, dia bukan hanya mampu melihat ke depan dengan berani, akan tetapi telah menjadi teman yang sangat nyaman untuk kita.

Fathoroni :
Seseorang yang masih sama seperti dia berumur lima tahun. Kenapa kukatakan demikian? Karena selain begitu polos, dia juga masih menyukai hal-hal yang anak lima tahun sukai. Akan tetapi, dia juga seorang yang sangat berprinsip. Kehidupan agamanya begitu baik dan tak kan terpengaruh oleh apapun. Sosok sodara yang sangat baik.

Gumay Rizki T :
Pandai dan punya prestasi gemilang saat pertama bertemu. Punya kemampuan tapi sepertinya enggan menumbuhkannya. Gumay, tetap berikan yang terbaik ya.

Arno Multazam :
‘kerja keras dan tidak putus asa’, mungkin itulah kata yang tepat untukmu. Tidak peduli seberapa sering kau terjatuh tapi kau mampu bangkit kembali dengan semangat yang baru. Lelaki kuat dengan mimpinya yang begitu besar.

Joko Samsul Hadi :
Kenapa bisa begitu cuek menjalani hari-hari berat kita diperkuliahan? Sangat iri melihatnya yang tak pernah memandang suatu kerumitan sebagai masalah. Yang paling kuingat, dia selalu bisa tersenyum tak peduli sebanyak apa pun tugas yang ia miliki. Teman seperjuangan saat bersama anak-anak super aktif.

M. Zaenal Anshory :
Sosok yang pandai dan baik hati. Yang unik darinya, dia begitu cepat melupakan hal-hal penting yang harus dikerjakan. Sangat berterima kasih kepadanya karena begitu membantu saat aku tak memiliki apapun. Anshory, akan selalu mengingatnya.

Nanang Basri :
Selalu berusaha keras dalam mengerjakan sesuatu. Sering lupa yang namanya skala prioritas. Akan tetapi, kini dia telah menjadi lebih baik dari sebelumnya. Telah menyadari betapa berharganya waktu. Teman seperjuanganku lainnya bersama joko.

Ade Firmansyah :
Seseorang yang punya yang mimpi begitu banyak dan kecerdasan interpersonal yang begitu baik. Dianugrahi semangat dan kemalasan dalam waktu yang bersamaan. Ade, tetaplah berusaha.

Didi Septian Ardi :
Pribadi yang kocak dan memiliki percaya diri yang tinggi. Sangat bisa diandalkan dalam hal pekerjaan.  Teman yang bisa diajak dalam susah dan senang.

Zaenul Anwar :
Seorang jenius lainnya di kelas. Begitu telaten mengerjakan soal-soal dengan baik. Masuk dengan prestasi yang begitu gemilang dan kuharap dia akan tetap gemilang setelah kita berpisah.


Teman-teman Fisika ’07,
Tetaplah bersinar agar terangmu akan selalu tampak di mataku,
aku mencintai kalian semua karena Allah.

Wassalam.

By: Juni Kartika, S.Pd (Nyonya Zamrizal)
source: http://dangkuk-51.blogspot.com/2010/11/hanya-ingin-kalian-tahu-fisika-07-by.html

Minggu, 31 Juli 2011

Liberalisme, Pluralisme Dan Inklusivisme, Dahulu Hingga Sekarang

Rabu, 20 Juli 2011 23:05:15 WIB

LIBERALISME, PLURALISME DAN INKLUSIVISME, DAHULU HINGGA SEKARANG

Oleh
Ustadz Abu Ihsan Al-Maidani


Dahulu, kaum sufi juga memiliki keyakinan wihdatul-adyân (penyatuan agama), sebagai ekses dari keyakinan wihdatul-wujud yang mereka anut. Suatu keyakinan yang bathil, mereka mengatakan, bahwasanya Allah menampakkan diri dalam wujud segala sesuatu. Dan termasuk “sesuatu” adalah berhala dan semua yang disembah, baik berupa pepohonan, bebatuan, hewan, manusia, bintang dan malaikat. Pada hakikatnya yang disembah itu adalah Allah. Itulah makna kalimat lâ ilâha illallah menurut sangkaan kaum sufi yang meyakini wihdatul wujud.

Diantara contoh-contoh perkataan bathil dan kufur yang diucapkan oleh beberapa tokoh mereka yaitu Seperti ucapan ‘Abdul-Karim al-Jîli : Lâ ilâha illa ana, maksudnya, segala sesuatu yang disembah tidak lain adalah Aku. Akulah yang menampakkan diri dalam wujud berhalaberhala, bintang-bintang dan benda-benda itu. Akulah yang menjelma dalam wujud segala sesuatu yang disembah penganut ajaran agama manapun. Sesembahan-sesembahan itu tidak lain adalah Aku. Oleh sebab itu berhalaberhala itu Aku sebut sebagai ilâh (sesembahan).

Penyebutan kalimat ilâh bagi berhalaberhala tersebut adalah secara hakiki dan bukan majazi (kiasan). Tidak seperti asumsi ahli zhahir (maksud mereka adalah ahli hadits) yang mengatakan bahwa maksud Allah Subhanahu wa Ta’ala menamakan berhala-berhala itu dengan sebutan ilâh karena para penyembahnya menyebut sesembahan mereka dengan sebutan tersebut. Bukan maksudnya berhala-berhala itu benar-benar ilâh! Ini merupakan kekeliruan mereka (ahli zhahir) dan kedustaan terhadap Allahk. Sebab berhala-berhala itu, bahkan segala sesuatu di alam ini berasal dari Dzat Allah Azza wa Jalla.

Jadi, penamaan tersebut adalah hakiki. Karena Allahk adalah hakikat segala sesuatu. Bila Allahk menamakan sesuatu dengan sebutan ilâh, maka itu adalah penyebutan secara hakiki. Tidak sebagaimana asumsi ahli taklid yang terhijab (yang dimaksud adalah ahli ilmu), mereka mengatakan penamaan tersebut adalah penamaan secara majazi (kiasan). Berdasarkan asumsi mereka itu, berarti bebatuan, bintang-bintang, seluruh benda-benda yang disembah bukan ilâh! Dan berarti firman Allahk yang berbunyi: “Tiada sesembahan selain Aku maka sembahlah Aku” adalah tidak benar!

Yang benar ialah, Allah Azza wa Jalla menjelaskan kepada mereka (para penyembah berhala) bahwa berhala-berhala mereka itu adalah jelmaan Allahk. Artinya, status berhalaberhala tersebut sebagai ilaah adalah benar adanya. Dan yang mereka sembah itu pada hakikatnya adalah Allahk. Allahk berfirman “lâ ilâha illa ana” (tiada ilâh selain Aku). Yaitu tidak ada sesuatu apapun yang disebut sebagai ilaah kecuali Aku. Tidak ada di alam raya ini yang menyembah selain Aku. Bagaimana mungkin mereka menyembah selain-Ku, bukankah Aku telah menciptakan mereka supaya beribadah kepada-Ku saja? Dan tidak akan terjadi kecuali apa yang menjadi tujuan-Ku menciptakan mereka.

Dalam hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Setiap makhluk dimudahkan untuk sesuatu yang telah digariskan atas mereka”. Yaitu untuk beribadah kepada Allahk. Allah Azza wa Jalla berfirman: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku”. Allah kjuga berfirman: “Dan tidaklah segala sesuatu kecuali bertasbih dengan memuji-Ku”.

Dalam ayat di atas, Allahk telah memperingatkan Nabi Musa Alaihissallam, bahwa para penyembah berhala tersebut pada hakikatnya menyembah Allah Azza wa Jalla. Namun mereka menyambah-Nya melalui wujud berhala jelmaan Allah. Lalu memerintahkan Nabi Musa Alaihissallam agar menyembah Allah Azza wa Jalla dari seluruh wujud jelmaan Allah, Allah Azza wa Jalla berkata: “Tiada ilâh (sesembahan) kecuali Aku”. Yaitu segala sesuatu itu adalah Aku. Dan segala sesuatu yang Ku-sebut ilâh adalah Aku.[1]

Demikianlah penjelasan panjang lebar yang bathil lagi kufur dari al Jiili.

Contoh perkataan bathil lainnya yaitu ucapan Asy-Sya’rani : “Ketahuilah, seorang ahli tauhid selalu melaksanakan konsekuensi tauhidnya dengan cara apa saja. Meskipun ia tidak beriman kepada Kitabullah dan Rasul, ia tetap masuk surga”.[2]

Adapun Ibnu Arabi sudah kita ketahui bersama keyakinannya dalam masalah ini. Banyak pernyataan-pernyataan yang ia lontarkan dalam bukunya. Begitu pula, banyak bait-bait syair yang menunjukkan bahwa ia menganut keyakinan wihdatul-adyân. Menurutnya, menyembah patung-patung berhala itu tidak ubahnya menyembah Allah. Menurutnya, biara-biara itu sama seperti Ka’bah, gereja sama seperti masjid, seiring dengan bertukar-tukarnya penjelmaan Allah.
Dia-lah yang menampakkan diri dalam wujud segala sesuatu.

Dalam syairnya ia berkata:
Hatiku meyakini bentuk segala sesuatu
Tidak ada beda antara padang rumput tempat rusa merumput dengan biara para ruhban (ahli ibadah) tidak ada beda antara rumah berhala dengan Ka’bah begitu juga antara lembaran Taurat dengan mushaf Al-Qur‘ân
Aku senantiasa menjadikan cinta sebagai agama kemana saja kendaraanku menghadap[3]
Bagiku seluruh agama itu adalah agamaku dan imanku
Dalam kisah Bisyr, Hindun, dan saudaranya terdapat teladan yang baik bagi kita.
Begitu pula dalam kisah Qeis dan Laila, Serta kisah Mayy dan Ghailan.[4]

Dalam syair lain ia berkata:
Kadangkala aku disebut penggembala kambing di padang rumput
Kadangkala pula aku disebut rahib dan ahli nujum
Kekasihku menjelma menjadi tiga yang sebelumnya hanyalah satu.
Sebagaimana mereka menyebut satu oknum dengan beberapa identitas.[5]

Lebih jauh lagi ia mengatakan: “Seorang ahli ma’rifat yang sempurna, adalah yang dapat melihat seluruh sesembahan yang disembah menjelma dalam wujud Allahk. Oleh sebab itu, orang-orang menamakannya ilâh (sesembahan), disamping nama-nama khusus seperti batu, pohon, hewan, manusia, bintang dan malaikat. Itulah identitas khususnya. Uluhiyah, adalah sebuah martabat yang tergambar di benak penyembah berhala; seolah-olah itulah martabat sesembahannya. Namun pada hakikatnya yang terlihat oleh penyembah berhala itu adalah Allahk yang menjelma pada benda-benda khusus yang disembahnya itu”.[6]

Jadi, menurut falsafah Ibnu Arabi, penyembahan anak sapi yang dilakukan Bani Israil tidak lain adalah penyembahan Allah. Ia berkata: “Nabi Musa Alaihissallam lebih paham tentang hal ini daripada Harun Alaihissallam. Beliau menyadari apa sebenarnya yang disembah oleh para penyembah anak sapi itu. Beliau mengetahui secara pasti, Allah Azza wa Jalla telah menetapkan bahwa tidak ada sesuatupun yang disembah kecuali Allah. Dan ketetapan Allah Azza wa Jalla tersebut pasti berlaku. Oleh karena itulah Nabi Musa Alaihissallam menegur Nabi Harun Alaihissallam yang menyanggah mereka dan tidak bersikap toleran. Sebab seorang ‘arif (yang telah mencapai derajat ma’rifat), adalah yang dapat melihat Allah Azza wa Jalla pada segala sesuatu. Bahkan ia melihat Allah sebagai hakikat segala sesuatu”.[7]

Ibnu Arabi juga meyakini bahwa semua orang pasti masuk surga, tanpa pandang bulu apakah ia seorang muslim ataukah kafir. Ia berkata: “Telah nyata bagimu bahwa Allah Azza wa Jalla berada di arah mana saja. Yang berkembang di tengah-tengah manusia hanyalah sebatas keyakinan-keyakinan belaka. Semua pihak berada di atas kebenaran. Dan setiap yang benar berhak mendapat pahala. Dan setiap yang mendapat pahala pasti bahagia. Dan setiap orang yang berbahagia berarti telah mendapat keridhaan. Meskipun celaka selama beberapa waktu di Akhirat”.[8]

Ibnu Arabi juga berkata: “Adapun penghuni neraka, maka tempat kembali mereka adalah kenikmatan. Namun mereka tetap berada di neraka, sebab neraka akan berubah menjadi dingin dan penuh keselamatan setelah habis masa penyiksaan. Itulah kenikmatan penghuni neraka. Kenikmatan mereka itu seperti kenikmatan Nabi Ibrahim Alaihissallam ketika dilemparkan ke dalam api. Beliau merasa takut dan tersiksa melihat api tersebut, karena mengetahui apa yang diakibatkan oleh bakaran api itu. Beliau juga mengetahui bahwa api itu dapat membakar hewan yang ada di sekitarnya dan benda apa saja yang dikehendaki Allah Azza wa Jalla. Setelah penghuni neraka merasakan siksaan, mereka akan mendapatkan kesejukan dan kedamaian meskipun ia menyaksikan neraka. Neraka itu hanyalah neraka dalam pandangan manusia. Dan pandangan manusia bisa jadi berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya. Itulah tajalli ilahi”.[9]

Itulah pendahulu mereka! Betapa mirip dahulu dengan sekarang. Sekarang, mereka juga menyuarakan seperti itu namun dengan nada yang sedikit berbeda tetapi dengan tujuan yang sama, yaitu menisbikan agama! Semua bertolak dari satu pijakan, yaitu kebebasan berpikir dan mendewakan akal di atas syariat.

Jadi, liberalisme sebagai sebuah paham sesungguhnya sudah lama ada, seiring dengan proses penerjemahan buku-buku filsafat Yunani, Persia dan India ke dalam bahasa Arab atas perintah al-Makmun. Sejak itu, seruan kepada wihdatul-adyân (penyatuan agama) dan penisbian nilai-nilai agama sudah terdengar. Penganut paham pluralis ini mengambil patokan tahun 1798 sebagai tonggak berdirinya paham Liberal.

Pada tahun 1798 Napoleon Bonaparte menancapkan kukunya di Mesir. Tahun itu sangat bersejarah sehingga Bernard Lewis menyebutnya sebagai “a watershed in history” dan “the first shock to Islamic complacency, the first impulse to westernization and reform” (Lewis 1964:34). Para sejarawan menyebutkan, kedatangan Napoleon di Mesir merupakan tonggak penting bagi Muslim Liberal dan juga bagi bangsa Eropa. Bagi kaum Muslim Liberal, kedatangan itu membuka mata mereka, betapa tentara Eropa yang modern mampu menaklukkan dan menguasai jantung Islam. Bagi orang Eropa, kedatangan itu menyadarkan betapa mudah menaklukkan sebuah peradaban yang di masa silam begitu berjaya dan sulit ditaklukkan. Begitu pentingnya tahun 1798 ini hingga Albert Hourani, sejarawan Inggris keturunan Lebanon, menjadikannya sebagai awal era liberal bagi bangsa Arab dan kaum muslimin. Seperti telah ia jelaskan dalam bukunya, Arabic Thought in the Liberal Age, kedatangan Napoleon ke Mesir bukan sekadar invasi militer, melainkan juga titik awal westernisasi bangsa Arab dan kaum Muslim. Hourani ini menjadikan era liberal sebagai rujukan masa kebangkitan Islam di dunia modern.

Kata liberal di sini, ialah sebuah kondisi dan suasana dimana kaum muslim bebas mengartikulasikan kesadaran budaya dan peradaban mereka. Dalam konteks Eropa, liberal mengacu kepada situasi kebangkitan dan pencerahan. Itulah sebabnya ketika karya Hourani ini diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, kata yang digunakan untuk menerjemahkan “liberal age” adalah ‘ashr al-nahdhoh, yang berarti “era kebangkitan”. Judul lengkap buku Hourani ini ialah al-Fikr al-Arabi fi asr al-nahdhoh.

Menurut Hourani, era liberal di dunia Arab dimulai antara tahun 1798 sampai tahun 1939. Selama rentang itu, dasar pemikiran seperti kemajuan, modernitas, kebebasan, dan persamaan dibincangkan secara luas.

Para pembaharu generasi awal seperti at-Tahtawi, at-Tunisi, dan al-Kawâkibi memandang kondisi kaum muslimin saat itu terbelakang, tidak semaju bangsa Eropa. Perhatian utama mereka adalah bagaimana mengubah keadaan ke arah lebih baik. Mereka selalu membenturkan kondisi keterbelakangan kaum muslimin dengan kemajuan Eropa. Persis seperti yang dipertanyakan al-Kawaakibi dalam bukunya berjudul, Limâdza Ta-akhkhara al-Muslimun wa Limâdza Taqaddama Ghairuhum (Mengapa kaum muslim mundur dan mengapa bangsa lain maju?).

Seluruh pemikiran dan gagasan yang dikemukakan para pembaharu Islam abad ke-19 berputar pada upaya menjawab pertanyaan di atas. Adalah ironis, peradaban yang pada masa silam memiliki sejarah gemilang dan kitab sucinya mewartakan “umat terbaik di dunia” (khairu ummatin ukhrijat linnas), namun ia berada pada titik nadir peradaban. Bukan hanya berada dalam keterbelakangan, tetapi juga berada dalam penjajahan bangsa lain. Mesti ada satu sebab utama, mengapa kaum Muslim terbelakang dan mengapa bangsa Eropa maju?

Rifa’a at-Tahtawi (1801-1873), adalah salah satu tokoh pembaharu generasi awal yang mencoba menjawab pertanyaan itu. Menurut at-Tahtawi, kunci pertanyaan itu adalah “kebebasan” (hurriyyah). Bangsa Eropa maju karena memiliki kebebasan. Temuan sains dan teknologi di Eropa sejak abad ke-16 didorong oleh suasana kebebasan dalam masyarakat itu. At-Tahtawi menganggap, kebebasan bukan hanya kunci bagi kebahagiaan, tetapi juga bagi keamanan dan kesejahteraan. Menurut at-Tahtawi, sebab utama keterbelakangan kaum muslimin, ialah ketiadaan kebebasan itu. Ini sudah terjadi sejak kerajaan Islam di Baghdad (abad ke-12) dan Cordova (abad ke-15) runtuh. Sebaliknya, kebebasan berpikir, yang dalam istilah agama dikenal dengan ijtihad justru dimusuhi dan diharamkan. Selama rentang abad ke-15-ke-19, wacana pemikiran Islam diwarnai dengan semangat menutup pintu ijtihad.

At-Tahtawi tak sendirian meyakini “kebebasan” sebagai kunci kemajuan suatu bangsa. Pada tahun 1878 Sa’dullah, seorang intelektual dan diplomat Turki, berkunjung ke Pameran Besar di Paris. Dalam sepucuk surat kepada teman-temannya, dia bercerita: “Di depan pintu utama, aku melihat patung kebebasan. Dia duduk dan memegang sesuatu di tangannya. Gayanya seolah sedang menyampaikan pesan: ‘Hai para pengunjung! Jika anda menyaksikan berbagai pencapaian kemajuan manusia dalam pameran ini, jangan lupa bahwa seluruh pencapaian ini adalah hasil dari kebebasan. Lewat kebebasan manusia mencapai kebahagiaan. Tanpa kebebasan, tak akan ada keamanan; tanpa keamanan, tak akan ada pencapaian; tanpa pencapaian, tak akan ada kesejahteraan; tanpa kesejahteraan, tak akan ada kebahagiaan’.” [Lewis 1964:47].

Begitulah awal mula munculnya paham kebebasan yang kebablasan ini. Para pembaharu atau liberalis muslim generasi awal melihat kebebasan benar-benar sebagai kunci kebahagiaan. Bukan hanya kebahagiaan individu, tetapi juga kebahagiaan suatu bangsa.

Yang dimaksud dengan kebebasan adalah kebebasan politik. Yaitu suatu keadaan saat individu bisa memikirkan dan berbuat sesuatu secara bebas tanpa tekanan atau larangan penguasa. Yang dimaksud dengan “penguasa” sebetulnya adalah kepala negara –raja maupun sultan- tetapi dalam pemahaman at-Tahtawi dan kelompoknya, “penguasa” adalah otoritas dalam sebuah kelompok masyarakat yang mampu mempengaruhi. Dalam hal ini, tokoh atau lembaga agama yang memiliki pengaruh politik di masyarakat bisa dianggap sebagai “penguasa”.

Generasi kedua gerakan liberalisme Islam juga menganggap kebebasan sebagai kunci utama memperbaiki keadaan kaum muslimin. Para tokoh generasi ini, seperti Muhammad Abduh yang kemudian dilanjutkan oleh murid setianya, Qassim Amin, Ali Abdur-Raziq, dan seorang murid asal Indonesia, Muhammad Tahir Djalaluddin, menganggap kebebasan sebagai modal penting merealisasikan solusi lain. Qassim Amin misalnya, menganggap kebebasan sebagai prasyarat utama bagi terwujudnya gagasan emansipasi perempuan. Amin adalah tokoh Islam pertama yang lantang menyuarakan emansipasi perempuan di dunia Islam.

Ali Abdur-Raziq (1888-1966) adalah sahabat dan pendukung Qassim Amin. Sepenuhnya ia setuju dengan gagasan emansipasi perempuan dan perlunya kaum muslimin memberi ruang “kebebasan” bagi perempuan. Tetapi, system kekuasaan yang menaungi kaum muslimin tak bersahabat pada gagasan progresifnya ini. Selama itu pula, gagasan ini tak bisa terwujud. Yang dia maksud dengan “sistem kekuasaan tak bersahabat”, adalah sistem pemerintahan khilafah.

Ketika Abdur-Raziq berbicara tentang “khilafah”, rujukannya ialah system pemerintahan Kerajaan ‘Utsmaniyah. Seperti umumnya para reformis Muslim saat itu, Abdur-Raziq juga memandang kekhalifahan ‘Utsmaniyah sebagai contoh buruk pemerintahan Islam. Pola hidup hedonistik para khalifah dengan harem dan kemewahan yang mengelilinginya kerap dikontraskan dengan kemiskinan dan kebodohan kaum muslimin ketika itu. Menurutnya, sistem khilafah bukan sistem yang ideal. Itu sebabnya, Abdur-Raziq menolak sistem khilafah. Baginya, khilafah bukan sistem politik yang diwajibkan Islam. Khilafah hanya satu dari banyak pilihan ciptaan manusia. Di era modern, ketika ada system politik yang lebih baik, sudah seharusnya kaum muslimin menyerapnya. Menurutnya, mempertahankan sistem khilafah tak hanya menghabiskan energi kaum muslimin, tetapi juga melestarikan kebodohan dan keterbelakangan.

Muhammad Tahir Djalaluddin adalah murid Muhammad ‘Abduh yang menyebarkan gagasan pembaharuan Islam di Indonesia. Selesai berguru kepada Abduh, ia meninggalkan Mesir. Karena situasi politik tak menguntungkan, ia tak kembali ke Indonesia, tetapi transit di Singapura dan mulai menyebarkan gagasan pembaruannya dari sana. Di Singapura, ia mendirikan majalah al-Imam. Nama ini terinspirasi dari panggilan akrab Muhammad ‘Abduh. Di Mesir, mereka mendirikan kelompok diskusi yang disebut madrasah al-Imam dan mendirikan partai politik yang disebut Hizb al-Imam.

Lewat Djalaluddin, gagasan pembaruan dan liberalisme Islam Timur Tengah disebarkan di Indonesia dan Malaysia. Tulisan al-Afghani dan ‘Abduh dalam al-’Urwatul-Wutsqa dan al-Manar diterjemahkan dan diterbitkan dalam majalah al-Imam. Tema tentang kemajuan, kebebasan, dan emansipasi wanita mewarnai majalah ini. Majalah al-Imam menjadi media Islam pertama yang menyebarkan gagasan liberalisme Islam di Indonesia. Pada 1911 majalah Islam lain, al-Munir, terbit di Sumatera. Pendirinya, ‘Abdullah Ahmad, adalah murid Ahmad Khatib, reformis Melayu yang bermukim di Mekkah. Majalah ini, bersama al-Imam, menjadi corong kaum muda menyebarkan gagasan Islam Liberal.

Gerakan Islam Liberal menemukan momentumnya kembali di Indonesia pada awal 1970-an, seiring dengan perubahan politik dari era Soekarno ke Soeharto. Gerakan ini dipicu oleh munculnya generasi baru yang lebih banyak berkesempatan belajar Islam di Barat (Eropa dan Amerika). Tokoh paling sentral dalam gerakan baru ini adalah Nurcholish Madjid. Ia banyak melontarkan gagasan baru. Di antaranya tentang sekularisasi, pluralisasi dan paham kenisbian (relativisme). Cak Nur inilah yang mengartikan “Lâ ilâha illallah” dengan “tiada tuhan selain Tuhan”. Dia kemudian mendirikan Universitas Paramadina yang menjadi “tempat berkumpulnya” orang-orang yang sepaham dengannya.

Cak Nur ini tak sendirian. Menjelang tahun 1980-an, gerbong Islam Liberal diperkuat dengan semakin banyaknya liberalis-liberalis baru. Mereka menganggap diri sebagai penerus cita-cita kebangkitan dalam semangat Muhammad ‘Abduh, Qassim Amin, Ali ‘Abdur-Raziq, dan Muhammad Iqbal. Tulisan dan refleksi mereka tersebar di media massa. Gagasan pembaruan mereka dikaji dan disebarkan generasi lebih muda di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Pada 2001 Jaringan Islam Liberal (JIL) didirikan di Jakarta. Organisasi (lebih tepatnya gerakan) ini melengkapi munculnya organisasi Islam serupa yang sudah ada lebih dulu: Rahima, Lakpesdam, Puan Amal Hayati, Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M), dan Lembaga Kajian Agama dan Jender (LKAJ). Sejak awal, JIL diniatkan sebagai payung atau penghubung organisasi Islam Liberal yang ada di Indonesia. Karena itu, gerakan ini tak memakai nama organisasi atau lembaga, tapi jaringan. Dengan nama jaringan, JIL berusaha menjadi komunitas tempat para aktivis muslim berbagai organisasi Islam Liberal berinteraksi dan bertukar pandangan secara bebas.[10]

Jadi, inti agenda Islam liberal ini ialah menanamkan bahwa urusan negara adalah murni urusan dunia, dan sistem manapun yang dipakai tidak menjadi masalah, mengangkat isu toleransi antar agama, menyuarakan emansipasi wanita dan kebebasan berpendapat secara mutlak. [11]

Itulah makar orang-orang kafir dan zindiq untuk menyesatkan kaum muslimin. Lalu apa kewajiban kaum muslimin? Bagaimana cara menghadapi serangan yang ditujukan secara membabi buta terhadap Islam dan kaum muslimin?

Tentu saja, tanggung jawab besar ada di pundak kaum muslimin, baik secara individu maupun kelompok, rakyat maupun pemerintah dalam menghadapi arus pemikiran sesat yang memangsa setiap individu umat ini, yang besar maupun kecil, lelaki maupun wanita! Hasbunallah wa ni’mal wakil! Boleh kita katakan, kewajiban ini berlaku secara menyeluruh meskipun harus kita akui bahwa ada solusi dan pemecahan syar’i secara khusus bagi setiap kondisi dan peristiwa, berikut perinciannya:

1. Menancapkan kembali dasar-dasar aqidah Islamiyah di hati kaum muslimin. Melalui kurikulum-kurikulum pendidikan dan tarbiyah dalam skala umum, dan lebih memusatkan penanaman dasar-dasar aqidah ini bagi generasi muda, khususnya anak-anak, di lembaga-lembaga pendidikan formal maupun non formal, negeri maupun swasta.

2. Membangkitkan fanatisme beragama yang positif di segala lapisan umat dan menumbuhkan kesadaran membela kesucian dan kehormatan Islam.

3. Menutup seluruh saluran masuknya produkproduk dan arus pemikiran barat.

4. Memberikan penyuluhan kepada kaum muslimin tentang bahaya-bahaya paham paham sesat ini agar mereka tidak terjerat jaring-jaringnya.

5. Memperhatikan seluruh bidang yang menjadi kebutuhan primer kaum muslimin, di antaranya pelayanan kesehatan dan pendidikan secara khusus.

6. Setiap muslim dimana saja berada, hendaklah berpegang teguh kepada Al-Qur‘an dan as-Sunnah dengan pemahaman Salaf, tidak dengan pemahaman lainnya yang menyesatkan. Hendaklah memegang teguh nilai-nilai Islam dalam diri mereka dan orang orang yang berada di bawah penguasaannya sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing. Dan setiap keluarga muslim, hendaklah memiliki benteng yang kokoh dalam menghadapi setiap usaha yang ingin merusak aqidah dan akhlak mereka.

7. Setiap pribadi maupun keluarga muslim, hendaklah tidak melakukan perjalanan ke negeri-negeri kafir kecuali untuk kepentingan yang sangat darurat, seperti untuk berobat atau menuntut ilmu yang sangat vital yang tidak dapat dipelajari di negeri-negeri Islam. Sebelumnya mereka dibekali dengan kesiapan untuk menghadapi berbagai syubhat dan fitnah yang dibidikkan kepada kaum muslimin.

8. Menggugah kesadaran sosial di antara kaum muslimin dan semangat tolong menolong di antara mereka. Orang-orang kaya hendaklah memperhatikan kaum fuqara’, mengulurkan kedermawanan dalam hal-hal kebaikan dan program-program yang bermanfaat untuk mencukupi kebutuhan kaum muslimin. Sehingga tangan-tangan kotor Nasrani tidak memanfaatkan kemiskinan dan kefakiran untuk memurtadkan mereka.

MARAJI‘:
1. Al-Ibthâl, Syaikh Bakr Abu Zaid.
2. Bahaya Islam Liberal, Hartono Ahmad Jaiz.
3. Dirasâtun fît Tashawwuf, Ihsan Ilahi Zhahir.
4. Fiqih Lintas Agama, Nurcholish Majid dkk.,Yayasan Wakaf Paramadina & The Asia Foundation,
Jakarta, 2004.
5. Islam Liberal Paradigma Baru Wacana dan Aksi Islam Indonesia, Zuly Qodir, Pustaka Pelajar, 2003.
6. Mengapa Barat Menjadi Sekular-Liberal?, Adian Husaini, www.insistnet.com., 2004.
7. Shahwatur-Rajulil Maridh, Jamaluddin al-Afghani fil-Mizan, diambil dari al-Ibthâl li Nazhariyatil-Khalath baina Dinil-Islam wa Ghairihi minal-Adyan.
8. Harian Kompas.
9. Majalah Gatra, edisi 3 April 2004.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XII/1429H/2008M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]
_______
Footnote
[1]. Al-Insan al-Kamil, ‘Abdul-Karim al-Jîli, I/99.
[2]. Al-Yawaqit wal-Jawahir, asy-Sya’rani, II/58.
[3]. Maksudnya, agama apapun yang kuanut.
[4]. Dzakhairul-Akhlaq Syarh Turjumani Asywaq, Ibnu Arabi, hlm. 49 dan sesudahnya.
[5]. Ibid., hlm. 52-53.
[6]. Fushushul Hikam, Ibnu Arabi, hlm. 195.
[7]. Ibid., hlm. 192.
[8]. Ibid., hlm. 114.
[9]. Ibid., hlm 169-170.
[10]. Lihat tulisan Oleh Luthfi Asysyaukâni pendiri JIL, Peneliti Freedom Institute, dan Dosen Universitas Paramadina, Jakarta.
[11]. Lihat tulisan berjudul “Empat Agenda Islam Yang Membebaskan” tulisan Luthfi asy-Syaukâni.
sumber: www.almanhaj.or.id

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Di Bulan Ramadhan

Minggu, 31 Juli 2011 14:27:42 WIB

RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM DI BULAN RAMADHAN

Oleh
Syaikh Dr Muhammad Musa Alu Nashr


Tamu agung nan penuh barakah akan kembali mendatangi kita. Kedatangannya yang terhitung jarang, hanya sekali dalam setahun menumbuhkan kerinduan mendalam di hati kaum Muslimin. Leher memanjang dan mata nanar memandang sementara hati berdegup kencang menunggu kapan gerangan hilalnya terbit.

Itulah Ramadhân, bulan yang sangat dikenal dan benar-benar ditunggu kehadirannya oleh kaum Muslimin.

Kemuliaanya diabadikan dalam al-Qur'ân dan melalui untaian-untaian sabda Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam. Allâh Azza wa Jalla menjadikannya sarat dengan kebaikan, mulai dari awal Ramadhan sampai akhir. Allâh Azza wa Jalla berfirman

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhân, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'ân sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)".[al-Baqarah/2:185]

Jiwa yang terpenuhi dengan keimanan tentu akan segera mempersiapkan diri untuk meraih keutamaan serta keberkahan yang yang ada didalamnya.

Pada bulan ini Allah Azza wa Jalla menurunkan al-Qur'ân. Seandainya bulan Ramadhan tidak memiliki keutamaan lain selain turunnya al-Qur'ân maka itu sudah lebih dari cukup. Lalu bagaimana bila ditambah lagi dengan berbagai keutamaan lainnya, seperti pengampunan dosa, peninggian derajat kaum Mukminin, pahala semua kebaikan dilipatgandakan, dan pada setiap malam Ramadhan, Allah Azza wa Jalla membebaskan banyak jiwa dari api neraka.

Pada bulan mulia ini, pintu-pintu Surga dibuka lebar dan pintu-pintu neraka ditutup rapat, setan-setan juga dibelenggu. Pada bulan ini juga ada dua malaikat yang turun dan berseru, "Wahai para pencari kebaikan, sambutlah ! Wahai para pencari kejelekan, berhentilah !"

Pada bulan Ramadhân terdapat satu malam yang lebih utama dari seribu bulan. Orang yang tidak mendapatkannya berarti dia terhalang dari kebaikan yang sangat banyak.

Mengikuti petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang mulia dalam melakukan ketaatan adalah hal yang sangat urgen, terlebih pada bulan Ramadhan. Karena amal shalih yang dilakukan oleh seorang hamba tidak akan diterima kecuali jika dia ikhlash dan mengikuti petunjuk Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam. Jadi, keduanya merupakan rukun diterimanya amal shalih. Keduanya ibarat dua sayap yang saling melengkapi. Seekor burung tidak bisa terbang dengan menggunakan satu sayap.

Melalui naskah ringkas ini, marilah kita berusaha untuk mempelajari prilaku Rasûlullâh di bulan Ramadhân agar kita bisa meneladaninya. Karena orang yang tidak berada diatas petunjuk Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam di dunia dia tidak akan bisa bersama beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam di akhirat. Kebahagiaan tertinggi akan bisa diraih oleh seseorang ketika ia mengikuti petunjuk Rasûlullâh secara lahir dan batin. Dan seseorang tidak akan bisa mengikuti Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali dengan ilmu yang bermanfaat. Ilmu itu tidak akan disebut bermanfaat kecuali bila diiringi dengan amalan yang shalih. Jadi amalan shalih merupakan buah ilmu yang bermanfaat.

Dibawah ini adalah beberapa kebiasaan dan petunjuk Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam pada bulan Ramadhân :

a). Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak akan memulai puasa kecuali jika beliau sudah benar-benar melihat hilal atau berdasarkan berita dari orang yang bisa dipercaya tentang munculnya hilal atau dengan menyempurnakan bilangan Sya'bân menjadi tiga puluh.

b). Berita tentang terbitnya hilal tetap beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam terima sekalipun dari satu orang dengan catatan orang tersebut bisa dipercaya. Ini menunjukan bahwa khabar ahad bisa diterima.

c). Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang umatnya mengawali Ramadhân dengan puasa satu atau dua hari sebelumnya kecuali puasa yang sudah terbiasa dilakukan oleh seseorang. Oleh karena itu, beliau n melarang umatnya berpuasa pada hari Syak (yaitu hari yang masih diragukan, apakah sudah tanggal satu Ramadhan ataukah masih tanggal 30 Sya'bân-red)

d). Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam berniat untuk melakukan puasa saat malam sebelum terbit fajar dan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menyuruh umatnya untuk melakukan hal yang sama. Hukum ini hanya berlaku untuk puasa-puasa wajib, tidak untuk puasa sunat.

e). Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak memulai puasa sampai benar-benar terlihat fajar shadiq dengan jelas. Ini dalam rangka merealisasikan firman Allâh Azza wa Jalla :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

"Dan makan serta minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar". [al-Baqarah/2:187]

Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada umatnya bahwa fajar itu ada dua macam fajar shâdiq dan kâdzib. Fajar kadzib tidak menghalangi seseorang untuk makan, minum, atau menggauli istri. Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah ekstrem kepada umatnya, baik pada bulan Ramadhân ataupun bulan lainnya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah mensyari'atkan adzan (pemberitahuan) tentang imsak.

f). Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

لَا تَزَالُ أُمَّتِي بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

"Umatku senantiasa baik selama mereka menyegerakan berbuka"

g). Jarak antara sahur Rasûlullâh dan iqâmah seukuran bacaan lima puluh ayat

h). Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam memiliki akhlak yang sangat mulia. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling mulia akhlaknya. Bagaimana tidak, akhlak beliau adalah al-Qur'ân, sebagaimana diceritakan oleh Aisyah Radhiyallahu 'anha. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sangat menganjurkan umatnya untuk berakhlak mulia, orang-orang yang sedang menunaikan ibadah berpuasa. Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkatan dan perbuatan dusta, maka tidak membutuhkan puasanya sama sekali".

i). Rasûlullâh sangat memperhatikan muamalah yang baik dengan keluarganya. Pada bulan Ramadhân, kebaikan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada keluarga semakin meningkat lagi.

j). Puasa tidak menghalangi beliau untuk sekedar memberikan kecupan manis kepada para istrinya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling kuat menahan nafsunya.

k). Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak meninggalkan siwak, baik di bulan Ramadhân maupun diluar Ramadhân guna membersihkan mulutnya dan upaya meraih keridhaan Allâh Azza wa Jalla.

l). Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berbekam padahal beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang menunaikan ibadah puasa. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam membolehkan umatnya untuk berbekam sekalipun sedang berpuasa. Pendapat yang kontra dengan ini berarti mansukh (telah dihapus).

m). Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berjihad pada bulan Ramadhân dan menyuruh para shahabatnya untuk membatalkan puasa mereka supaya kuat saat berhadapan dengan musuh.

Diantara bukti Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam sayang kepada umatnya yaitu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam membolehkan orang yang sedang dalam perjalanan, orang yang sakit dan oranng yang lanjut usia serta wanita hamil dan menyusui untuk membatalkan puasanya.

n). Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam lebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah pada bulan Ramadhân bila dibandingkan dengan bulan-bulan lain, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhân untuk mencari lailatul qadr.

o). Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhân kecuali pada tahun menjelang wafat, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam beri'tikaf selama dua puluh hari. Ketika beri'tikaf, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam selalu dalam keadaan berpuasa

p). Ramadhân adalah syahrul Qur'ân (bulan al-Qur'ân), sehingga tadarus al-Qur'ân menjadi rutinitas beliau, bahkan tidak ada seorangpun yang sanggup menandingi kesungguh-sungguhan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam tadarus al-Qur'ân. Malaikat Jibril Alaihissallam senantiasa datang menemui beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk tadarus al-Qur'ân dengan Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam.

q). Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang dermawan. Kedermawanan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam di bulan Ramadhân tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Kedermawanan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam ibarat angin yang bertiup membawa kebaikan, tidak takut kekurangan sama sekali.

r). Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah seorang mujahid sejati. Ibadah puasa yang sedang beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam jalankan tidak menyurutkan semangat beliau untuk andil dalam berbagai peperangan. Dalam rentang waktu sembilan tahun, beliau mengikuti enam pertempuran, semuanya terjadi pada bulan Ramadhân. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga melakukan berbagai kegiatan fisik pada bulan Ramadhân, seperti penghancuran masjid dhirâr [1], penghancuran berhala-berhala milik orang Arab, penyambutan duta-duta, penaklukan kota Makkah, bahkan pernikahan beliau dengan Hafshah

Intinya, pada masa hidup Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam, bulan Ramadhân merupakan bulan yang penuh dengan keseriusan, perjuangan dan pengorbanan. Ini sangat berbeda dengan realita sebagian kaum Muslimin saat ini yang memandang bulan Ramadhân sebagai saat bersantai, malas-malasan atau bahkan bulan menganggur atau istirahat.

Semoga Allâh Azza wa Jalla memberikan taufik kepada kita untuk selalu mengikuti jejak Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam, hidup kita diatas sunnah dan semoga Allah Azza wa Jalla mewafatkan kita juga dalam keadaan mengikuti sunnah Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04-05/Tahun XIV/1431H/2010M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]
_______
Footnote
[1]. Masjid yang dibangun oleh kaum munafik untuk memecah belah kaum Muslimin
sumber: www.almanhaj.or.id